> Rintik Hujan
Laras Fadillah - 19. Striving Muslimah. Late bloomer. Rintik Hujan is diary daily life of a Student of Physics Engineering UGM-Indonesia. Banana, Capucinno and Chocolate-Holic. Baby breath, lily, and Rose Lover. Extro and Introvert. enjoys reading, traveling, walking at night and beach. ;)

beningtirta:

Hai!

Masih ingatkah kamu pada obrolan ngalor-ngidul kita yang luar biasa? Itu kali pertama aku tidak pernah jemu dengan sebuah obrolan yang berterusan. Walaupun dengan jeda yang membuat kita rindu. Mungkin rindu itu yang memperkaya bahan obrolan kita.

Kamu dengan interest dan excitement-mu sendiri, aku dengan pengetahuanku dan sisi lain dari diriku yang belum banyak aku jamah. Bersamamu aku bebas. Bersamamu aku hidup dengan semangat yang melompat-lompat.

Aku sekarang sadar, aku tidak butuh yang sama. Benar bahwa aku bisa dengan mudah get along dengan orang yang setipe denganku. Tapi, aku pasti akan jemu, dan aku sudah pernah jemu, berkali-kali. Aku butuh kamu. Kamu yang menawarkan perjalanan panjang menjamah sebagian aku yang aku sendiri belum sempat mencarikan media tumbuh kembangnya. Sampai kamu hadir. Tepatnya, aku menemukan aku yang penuh saat bersamamu. Aku membayangkan hidup tanpa rasa bosan dan mengakhiri nafas ini mengenal diriku seutuhnya.

Mereka, orang-orang di sekitar kita, juga harus tahu bahwa mereka tidak butuh yang sama. Satu anak manusia butuh seorang yang membantunya menemukan dirinya yang utuh - dirinya yang kini dan yang belum terjamah. Bersama menjelajahi waktu dan hidup, dengan excitement yang meluap-luap.

Ingatkah kamu saat kita membicarakan kabar bintang di ufuk sana dan miskonsepsi manusia pada hidup?

Aku selalu ingat bagaimana aku menemukanmu, menikmatimu, menikmati obrolan kita, menikmati saat-saat kamu menjamah sebagian aku.


Sinis, adalah ketika kita memandang salah perlakuan baik seseorang hanya karena kita berbeda pendapat atau merasa iri pada seseorang tersebut.

Hal ini sering terjadi pada banyak kesempatan, pada siapa saja dan dimana saja, tak terkecuali saya sendiri. Akan tetapi jika kita melihat apa gunanya membuang tenaga terus memperhatikan kelakuan seseorang, hanya untuk memperlhatkan betapa ‘buruk’ kelakuannya, itu sama saja dengan kita menelanjangi diri sendiri dan melihat betapa buruknya kita ini. Lebih bijak seandainya kita membuka mata kita dan mengintrospeksi kekurangan kita, yang mana jika semakin hari tidak diurus hati dan fikiran kita akan semakin dangkal nantinya.

Banyak dari kita, dan mungkin saya sendiri terlalu merasa “puas” dan merasa bahwa diri kita adalah yang “terbaik” sehingga memandang rendah orang lain yang tak sama dan tak sependapat dengan kita. Sifat dan cara pandang seperti ini lah yang harus dihindari yang menyebabkan kepekaan terkikis dan banyak hati-hati yang tersakiti.

Siapalah kita, Makhluk lemah yang dipinjamkan kecantikan, ketampanan, kekayaan, kepintaran dengan berani-beraninya menyatakan bahwa kita adalah yang paling baik diantara semuanya, cara pandang kita adalah yang paling benar? Suatu saat masa peminjaman ini akan berakhir, kita akan mengembalikannya ke Yang Maha Kuasa. Jadi kita punya apa? Tak ada lagi yang dapat disombongkan.

Laras Fadillah



Seorang penulis sejati bisa menuliskan kisah apa saja dalam keadaan apa saja. Bukan hanya bisa menulis dikala masalah datang menghampirinya, kata-kata bukanlah hanya alat pelampiasan perih dunianya tapi teman bicaranya.
— Laras Fadillah

Hai jingga, apa kabar kamu disana? Terakhir kali aku melihat wajahmu diujung sana kamu tampak murung sekali ditutup awan tebal. Aku hanya sempat mengabadikan setitik cahayamu saja, atau mungkin aku yang belum diizinkan menikmatimu lagi.
Aku lupa betapa lamanya aku tidak memberi kabar padamu. Roda terus berputar begitupun hidupku yang terus berjalan dari waktu kewaktu. Banyak yang berubah disini. Ada konflik yang akhirnya tak dapat aku hindari, Ada hati yang tersakiti, Ada mereka yang datang dan pergi sesuka hati, Ada cinta yang datang kembali, Dan ada aku yang selalu menunggu disini.
Jingga, Aku cerah dan tak berawan sedikitpun. Semoga dengan surat ini kamu juga berbahagia disana.

Laras Fadillah


tulipinmay:

Barangkali cinta

Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu

dan engkau beriak karenanya

Darahku dan darahmu

terkunci dalam nadi yang berbeda

Namun berpadu dalam badai yang sama

Barangkali cinta

Jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku

dan aku terbakar karenanya

Napasmu dan napasku

bangkit dari rongga dada yang berbeda

Namun lebur dalam bara yang satu

Barangkali cinta

Jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu

dan engkau memahamiku seketika

Kulitmu dan kulitku

membalut dua tubuh yang berbeda

namun berbagi bahasa yang serupa

Barangkali cinta

Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa

dan aku dapati rumah yang kucari

Matamu dan mataku

tersimpan dalam kelopak yang terpisah

Namun bertemu di jalan setapak yang searah

Barangkali cinta

Karena darahku, napasku, kulitku dan tatap mataku

Kehilangan semua makna dan gunanya

Jika tak ada engkau di seberang sana

Barangkali cinta

Karena darahmu, napasmu, kulitmu dan tatap matamu

kehilangan semua makna dan gunanya

Jika tak ada aku di seberang sini

Pastilah cinta

yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan dan kebijaksanaan

Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu

dan menjembatani semuanya

demi memahami dirinya sendiri

Jika tak ada engkau di seberang sana

Barangkali cinta

Dee, Madre



Karena kehidupan tanpa arti, tanpa arah, tanpa fokus, tanpa tujuan dan mimpi, hidup itu tak sepadan dijalani. Hidup itu datang dengan cepat, mengalir keseluruh tubuhmu dan mencoba untuk keluar dan diekspresikan melalui banyak cara. Di satu sisi, hidup itu mirip seperti petir.
— Laras Fadillah

Kost unik cuma ada di sini.. :D

Kost unik cuma ada di sini.. :D


robbysatria:

The future is scary but you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes, it’s tempting… But it’s a mistake. - Robin & Barney

hidup itu seperti jalanan yang padat merayap, di satu titik ada saat dimana kita harus berhenti menunggu di lampu merah, lalu menginjak gas di lampu hijau, di kesempatan lain kita ada di persimpangan jalan untuk memilih berbelok kekanan, kekiri atau berjalan lurus bisa juga berbalik arah dengan kondisi yang tidak terprediksikan.

semua akan berjalan, kita akan membuat keputusan keputusan yang tergantung pada banyak kesempatan-kesempatan, kadang ada kesempatan yang dibuat, ada kesempatan yang dicari, ada kesempatan yang datang sendiri.

sebagaimana kita ini, seharusnya berjalan kedepan, menghadapi lampu lampu hijau, menghadapi pertanyaan pertanyaan dan ketidakpastian untuk bisa terus bergerak maju dan tidak mundur kebelakang.



Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan
— (Rohana Kudus, 1884-1972)

virnaps:

On the top of Ungaran Mountain, in the serene of nature, and why they chose to build in this high place? | #mobilephotography #history #travel #temple #asia #semarang #indonesia #iamdreamcatcher | Temple number VI at Gedong Songo Temple Complex at Bandungan, Semarang, Indonesia.

virnaps:

On the top of Ungaran Mountain, in the serene of nature, and why they chose to build in this high place? | #mobilephotography #history #travel #temple #asia #semarang #indonesia #iamdreamcatcher | Temple number VI at Gedong Songo Temple Complex at Bandungan, Semarang, Indonesia.


1 2 3 4 5 »