Hai!
Masih ingatkah kamu pada obrolan ngalor-ngidul kita yang luar biasa? Itu kali pertama aku tidak pernah jemu dengan sebuah obrolan yang berterusan. Walaupun dengan jeda yang membuat kita rindu. Mungkin rindu itu yang memperkaya bahan obrolan kita.
Kamu dengan interest dan excitement-mu sendiri, aku dengan pengetahuanku dan sisi lain dari diriku yang belum banyak aku jamah. Bersamamu aku bebas. Bersamamu aku hidup dengan semangat yang melompat-lompat.
Aku sekarang sadar, aku tidak butuh yang sama. Benar bahwa aku bisa dengan mudah get along dengan orang yang setipe denganku. Tapi, aku pasti akan jemu, dan aku sudah pernah jemu, berkali-kali. Aku butuh kamu. Kamu yang menawarkan perjalanan panjang menjamah sebagian aku yang aku sendiri belum sempat mencarikan media tumbuh kembangnya. Sampai kamu hadir. Tepatnya, aku menemukan aku yang penuh saat bersamamu. Aku membayangkan hidup tanpa rasa bosan dan mengakhiri nafas ini mengenal diriku seutuhnya.
Mereka, orang-orang di sekitar kita, juga harus tahu bahwa mereka tidak butuh yang sama. Satu anak manusia butuh seorang yang membantunya menemukan dirinya yang utuh - dirinya yang kini dan yang belum terjamah. Bersama menjelajahi waktu dan hidup, dengan excitement yang meluap-luap.
Ingatkah kamu saat kita membicarakan kabar bintang di ufuk sana dan miskonsepsi manusia pada hidup?
Aku selalu ingat bagaimana aku menemukanmu, menikmatimu, menikmati obrolan kita, menikmati saat-saat kamu menjamah sebagian aku.
Sinis, adalah ketika kita memandang salah perlakuan baik seseorang hanya karena kita berbeda pendapat atau merasa iri pada seseorang tersebut.
Hal ini sering terjadi pada banyak kesempatan, pada siapa saja dan dimana saja, tak terkecuali saya sendiri. Akan tetapi jika kita melihat apa gunanya membuang tenaga terus memperhatikan kelakuan seseorang, hanya untuk memperlhatkan betapa ‘buruk’ kelakuannya, itu sama saja dengan kita menelanjangi diri sendiri dan melihat betapa buruknya kita ini. Lebih bijak seandainya kita membuka mata kita dan mengintrospeksi kekurangan kita, yang mana jika semakin hari tidak diurus hati dan fikiran kita akan semakin dangkal nantinya.
Banyak dari kita, dan mungkin saya sendiri terlalu merasa “puas” dan merasa bahwa diri kita adalah yang “terbaik” sehingga memandang rendah orang lain yang tak sama dan tak sependapat dengan kita. Sifat dan cara pandang seperti ini lah yang harus dihindari yang menyebabkan kepekaan terkikis dan banyak hati-hati yang tersakiti.
Siapalah kita, Makhluk lemah yang dipinjamkan kecantikan, ketampanan, kekayaan, kepintaran dengan berani-beraninya menyatakan bahwa kita adalah yang paling baik diantara semuanya, cara pandang kita adalah yang paling benar? Suatu saat masa peminjaman ini akan berakhir, kita akan mengembalikannya ke Yang Maha Kuasa. Jadi kita punya apa? Tak ada lagi yang dapat disombongkan.
Laras Fadillah
Seorang penulis sejati bisa menuliskan kisah apa saja dalam keadaan apa saja. Bukan hanya bisa menulis dikala masalah datang menghampirinya, kata-kata bukanlah hanya alat pelampiasan perih dunianya tapi teman bicaranya.
Hai jingga, apa kabar kamu disana? Terakhir kali aku melihat wajahmu diujung sana kamu tampak murung sekali ditutup awan tebal. Aku hanya sempat mengabadikan setitik cahayamu saja, atau mungkin aku yang belum diizinkan menikmatimu lagi.
Aku lupa betapa lamanya aku tidak memberi kabar padamu. Roda terus berputar begitupun hidupku yang terus berjalan dari waktu kewaktu. Banyak yang berubah disini. Ada konflik yang akhirnya tak dapat aku hindari, Ada hati yang tersakiti, Ada mereka yang datang dan pergi sesuka hati, Ada cinta yang datang kembali, Dan ada aku yang selalu menunggu disini.
Jingga, Aku cerah dan tak berawan sedikitpun. Semoga dengan surat ini kamu juga berbahagia disana.
Laras Fadillah
Barangkali cinta
Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu
dan engkau beriak karenanya
Darahku dan darahmu
terkunci dalam nadi yang berbeda
Namun berpadu dalam badai yang sama
Barangkali cinta
Jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku
dan aku terbakar karenanya
Napasmu dan napasku
bangkit dari rongga dada yang berbeda
Namun lebur dalam bara yang satu
Barangkali cinta
Jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu
dan engkau memahamiku seketika
Kulitmu dan kulitku
membalut dua tubuh yang berbeda
namun berbagi bahasa yang serupa
Barangkali cinta
Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa
dan aku dapati rumah yang kucari
Matamu dan mataku
tersimpan dalam kelopak yang terpisah
Namun bertemu di jalan setapak yang searah
Barangkali cinta
Karena darahku, napasku, kulitku dan tatap mataku
Kehilangan semua makna dan gunanya
Jika tak ada engkau di seberang sana
Barangkali cinta
Karena darahmu, napasmu, kulitmu dan tatap matamu
kehilangan semua makna dan gunanya
Jika tak ada aku di seberang sini
Pastilah cinta
yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan dan kebijaksanaan
Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu
dan menjembatani semuanya
demi memahami dirinya sendiri
Jika tak ada engkau di seberang sana
Barangkali cinta
Dee, Madre
Karena kehidupan tanpa arti, tanpa arah, tanpa fokus, tanpa tujuan dan mimpi, hidup itu tak sepadan dijalani. Hidup itu datang dengan cepat, mengalir keseluruh tubuhmu dan mencoba untuk keluar dan diekspresikan melalui banyak cara. Di satu sisi, hidup itu mirip seperti petir.
The future is scary but you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes, it’s tempting… But it’s a mistake. - Robin & Barney
hidup itu seperti jalanan yang padat merayap, di satu titik ada saat dimana kita harus berhenti menunggu di lampu merah, lalu menginjak gas di lampu hijau, di kesempatan lain kita ada di persimpangan jalan untuk memilih berbelok kekanan, kekiri atau berjalan lurus bisa juga berbalik arah dengan kondisi yang tidak terprediksikan.
semua akan berjalan, kita akan membuat keputusan keputusan yang tergantung pada banyak kesempatan-kesempatan, kadang ada kesempatan yang dibuat, ada kesempatan yang dicari, ada kesempatan yang datang sendiri.
sebagaimana kita ini, seharusnya berjalan kedepan, menghadapi lampu lampu hijau, menghadapi pertanyaan pertanyaan dan ketidakpastian untuk bisa terus bergerak maju dan tidak mundur kebelakang.
Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan