Rintik Hujan | ||
acakKita telah berbeda. Aku merasa senang jauh darimu, aku merasa tersiksa hanya untuk melihat sekelebat kamu dibayangan mataku. Lagi aku tersungkur, hanya Dia yang tahu betapa hatiku ini telah patah hancur berkeping-keping. Aku senang dengan kesendirian akhir-akhir ini, kurasa kamu tahu itu. Makanya kamu bertanya “Kemana? Kenapa jarang kelihatan?”. Aku tidak memungkiri hal itu, walau di bibir ku terucap kata yang sebaliknya. Aku tak tahan berada lama disekitarmu, cukup bagiku sepinya rumah singgah disini sebagai teman baik ku. Kamu tahu karena ulahmu dan teman-teman mu aku membenci kalian lebih dari benci ku terhadap diriku sendiri. Aku membenci cara kalian menjagaku, aku benci cara kalian mengingatkanku. Sedikit saja kalian mengerti, aku ini bukan orang yang biasa, aku pembangkang, keras kepala, nakal, keras hati, aku lah biang kerok masalah dsemua tempat. Kalian menjagaku dengan cara yang salah, kalian bahkan tak pernah mengajak ku bicara, berbagi fikiran. yang kalian lakukan hanya adu mengadu dan mengadu kejadian yang hanya kalian lihat dengan mata yang terbatas. Kamu tadi bilang “Aku hanya tau apa yang kamu tahu.”, tapi kali ini aku ingin membalas “Kamu hanya tahu apa yang kamu ingin tahu.” Aku tidak bisa seperti kalian dengan mudah, dalam berbagai macam hal aku mengulang kesalahan yang sama. Aku menderita begini, setelah satu kebiasaan buruk ku selesai tak ku ulangi, aku secara tdak sengaja masuk ke tempat yang lain. Aku gak bisa berada disini, aku gak tahan. tapi bagaimana? Bagaimana cara aku hidup diantara fikiran ku yang berbeda, naluriku yang pembangkang, kehidupan sejak kecil ku yang tertata, kehidupan sekarang ku yang menurutku berantakan. Tak lagi aku berharap sesuatu yang baik datang kepadaku. setelah banyak hal aku lakukan dan membuat Nya murka. Aku percaya Dia maha pemaaf, tapi dengan sifatnya itu aku jadi malu. Aku malu meminta, kecuali terjaganya Orang yang aku cintai sejak aku lahir hingga akhir hayat. Aku yakin tak bisa aku kembali, karena hal ini akan terulang dan terulang terus. Percayalah, I’ll try my best.
Posted on May/28/2012
Sayasaya menulis untuk diri sendiri, yang tak lagi nyenyak tidur malam, yang tak lagi bergegas meninggalkan sajadah, yang tak lagi mengatakan bahwa saya sulit menangis. *** orang lain tidak pernah benar-benar paham tentang (diri) kita karena (diri) kita sendiri tidak cukup paham siapa (diri) kita. coba saya tanya pada anda, seberapa anda mengerti tentang diri anda? bahkan saat anda menggenggam pena dan kertas, kemudian seorang meminta anda mendeskripsikan siapa anda, tertatih-tatih pasti pena anda seret. dan hidup adalah saran untuk menjadi, apa yang kita pikir mengenai bentuk ideal diri kita. maka seorang wahib pun mengatakan bahwa ia bukan wahib, tapi mewahib. tambah tertatih ketika sadar bahwa ada kesadaran palsu yang terus menerus direproduksi. semua orang dan institus menggadang-gadang apa yang terbaik, apa yang seharusnya. maka semakin dilemalah kita. yang kita ambil sekarang ini benarkah yang kita pikir benar? ataukah sekedar pelarian dari satu ide yang telah membuat kita kecewa berat, hingga secepat kilat kita berlari ke titik lain untuk menghindarinya. adilkah? lebih dilema lagi. *** bergerak. bertumbuh. (menjadi) berbeda. saya adalah saya hari ini. dan tidak pernah tahu besok akan jadi apa. lebih baikkah? lebih burukkah? begitu ketatkah? melewati bataskah? saya hanya bisa belajar dan mengisinya dengan doa. *** jika saya punya kuasa dan bisa sulap (kilat) saya ingin diri yang semakin pintar dan semakin mendekat pada Tuhan. seperti satu surat dalam Al Qur’an yang saya sukai (sekali), Al ‘Alaq (dan akan saya minta untuk mahar nikah
Posted on May/28/2012
Kemana dan Kapan?Aku berjalan dari rumah. Menyusur pada lorong terjauh… Bukan pada lorong di benua lain, eropa atau australia. Tapi hati. Aku selalu berpikir ada yang tidak tuntas. Memang bukan sekarang waktu yang tepat untuk merapikan. Satu. Satu. Aku tidak super. Mini malah. Tapi keras hati. Banyak hal sudah lewat. Aku pikir aku cukup pantas dapat posisi mewah dari diri sendiri, bahwa aku selesai dengan sikap terbaik. Tapi ini sulit. Aku tidak minta orang lain untuk paham, lebih jauh lagi merabarasakan. Karena jika paham berawal dari tahu (dengan utuh). Aku tidak pernah bermaksud membiarkan siapapun mengetahui dengan utuh. Maka aku akan bersiap untuk satu hal: menghapus air mata dengan punggung tanganku. Itu saja. Dan dengan lirih akan kubisikan pada jiwa… For I have only Allah, maka belajarlah, maka bersabarlah, maka berserahdirilah… Jarum jam selalu baru bergerak 2 menit dari terakhir kali aku lihat. Di balik tiket ini aku tulis tebal-tebal dengan huruf kapital: Kemana aku akan pergi dan kapan akan berhenti.
Posted on May/9/2012
Talking MindA : cerita yg ttg analogi cewe & pohon apel. “the best apple is on the top, but people don’t want to take it because they’re afraid of falling. so that’s why the apple is still there. only the bravest will get the apple”
B : apel itu cm punya 3 pilihan… ada yg berani ngambil, gak ada yg berani ngambil sampe akhirnya tua di pohon dan jatuh, keburu busuk dan dimakan ulet A : yup
B : dan darimana kita tau kalo apel itu yg terbaik?
A : makanya aku pikir analogi itu agak ‘sesat’
B : ada di atas pohon bukan bererti dia apel terbaik
A : aku lbh ‘setuju’ kalo analoginya “apel di pohon itu ada byk. tp knp yg diambil yg ‘itu’ (ngga peduli letaknya dmana)? dan kalo ditanya, ngga tau jawabannya”. that’s more irrationally logical i think. that’s love. you never know the reason why
Posted on May/9/2012
“if someone treat you as a joke, just act like it’s funny. why so serious? lesson learned ;)”LF
Posted on May/9/2012
Entahlah..Entahlah.. Kali ini memang terasa berbeda, sangat berbeda.. Jiwa cerianya telah hilang direnggut RASA KECEWA dan RASA TAKUT.. Jiwa cerianya telah hilang karena terlalu CURIGA dan diselimuti rasa MARAH.. Dia merasa berbeda, begitu pula dengan ku.. Dia menjadi orang yang lebih DIAM, persis seperti apa yang diinginkannya dahulu.. tapi dia SEPI, mudah MENANGIS.. Dia BINGUNG tak tau arah, Mendapatkan jalan yang tak lagi sama dengan jalan yang kemarin.. Kemarin, jalannya begitu indah seperti semua cinta menyambutnya, banyak tawa yang tergelakan, kebahagiaan datang begitu mudah, tak ada rasa sepi menyelimuti, tak ada halangan yang begitu ditakuti, banyak tempat dikunjungi, banyak rasa untuk berbagi. Sekarang, jalannya terasa berat. Katanya memang jalan inilah jalan yang benar, tapi tak ada lagi tawa yang begitu lepas, tak ada lagi cinta yang ada untuk dibagi, susah untuknya mendapatkan kebahagiaan, rasa sepi tiba-tiba datang menyelimuti, banyak halangan yang harus dipatuhi, tak ada lagi tempat yang dapat dikunjungi, dan air mata pun begitu mudah membasahi pipi. Dia mempertanyakan seseorang yang pernah bilang “Dibalik seseorang yang tertawa sebenarnya ada orang yang menangis” dulu rasanya tak begitu, seberat apapun bebannya, jika sudah tertawa semuanya seakan terangkat. sekarang, sepertinya dia berbeda.. hal kecilpun bisa membuatnya menangis.. dia terhindar dari dunia gelapnya, tapi dia sering bertanya-tanya “APAKAH BEGINI RASANYA KEMBALI? APAKAH HARUS SESAKIT INI? APAKAH HARUS SESEPI INI?”
Posted on May/5/2012
Casimir Force
Posted on May/4/2012
|
Author:Laras Fadillah - 19. Striving Muslimah. Late bloomer. Occasional wallflower. Extro- & introvert. Loves books, flowers & cats, thank you very much. chocolate- & tea-holic! :) - Instrument and Control Engineering, Gadjah Mada University - My greatest success is being myself. Let's Talk:Following: |
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Next
| ||